Indonesia menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya populasi anjing jalanan. Menurut SayangHewan (2024), di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali, jumlah anjing liar diperkirakan telah mencapai lebih dari 100.000 ekor. Peningkatan populasi ini disebabkan oleh kurangnya pengendalian reproduksi dan lemahnya kebijakan kesejahteraan hewan. Banyak anjing mengalami kekurangan gizi, penyakit, dan cedera, yang memperparah siklus populasi liar (Evelina & Carina, 2021). Kondisi ini tidak hanya merugikan hewan itu sendiri, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar mereka.
Anjing jalanan menjadi sumber penyebaran penyakit rabies, yang sangat berbahaya bagi manusia. Di wilayah dengan kepadatan tinggi anjing liar, seperti Bali, kasus kematian akibat gigitan anjing rabies cukup signifikan (FAO ECTAD Indonesia, 2016). Selain rabies, anjing jalanan dapat membawa ektoparasit dan penyakit kulit menular, termasuk dermatitis akibat infeksi parasit, bakteri, dan jamur. Penyakit-penyakit ini dapat menular ke anjing lain maupun manusia, sehingga menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang serius.
Pengendalian populasi anjing menjadi fokus pemerintah untuk mengurangi risiko penyakit berbahaya, mengurangi gangguan terhadap masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan hewan melalui pendekatan yang terencana. Menurut FAO ECTAD Indonesia (2016), program pengendalian rabies yang efektif harus mencakup Dog Population Management (DPM). Pengelolaan populasi yang baik mendukung efektivitas vaksinasi massal, mencegah wabah rabies secara berkelanjutan, serta menjamin kesejahteraan hewan dan masyarakat.
Metode culling atau pembasmian massal terbukti tidak efektif dan menimbulkan dampak negatif serius. Selain menyebabkan penderitaan dan trauma bagi hewan maupun masyarakat yang peduli, metode ini bersifat temporer karena populasi anjing akan kembali meningkat akibat reproduksi yang cepat dan ruang kosong yang muncul. Culling juga membutuhkan biaya tinggi dan tidak menyelesaikan akar masalah, yaitu penelantaran hewan peliharaan (Food Desk Animal Action, n.d.).
Pendekatan manusiawi dan berkelanjutan mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan (World Animal Protection, n.d). Solusi seperti sterilasi berkualitas tinggi, vaksinasi, dan edukasi masyarakat tentang tanggung jawab kepemilikan hewan terbukti efektif. Pendekatan ini meminimalkan penderitaan, menjaga stabilitas sosial anjing, dan memperbaiki hubungan manusia-hewan jangka panjang.
Pengelolaan populasi yang berkelanjutan menekankan intervensi etis dan efektif, fokus pada pengendalian reproduksi, peningkatan kesejahteraan anjing, dan pengurangan populasi secara stabil. Pendekatan ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mendorong kepemilikan hewan yang bertanggung jawab, dan mencegah penelantaran.
Program CNVR bekerja dengan menangkap anjing liar secara manusiawi, melakukan sterilisasi dan vaksinasi, kemudian melepaskan kembali ke lingkungan asalnya. Pendekatan ini efektif mengendalikan populasi tanpa membunuh, memberikan manfaat terhadap kesejahteraan hewan, dan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang (Hiby et al., 2025). Program CNVR telah terbukti menjadi salah satu metode pengelolaan populasi anjing yang paling manusiawi dan berkelanjutan.
Keberhasilan pengelolaan populasi anjing jalanan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi kesejahteraan hewan, akademisi, dan masyarakat. Kebijakan yang mendukung, pendanaan yang memadai, serta kerjasama lintas sektor akan memperkuat program yang berorientasi pada kesejahteraan dan keberlanjutan.
Edukasi bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perawatan hewan, sterilisasi, adopsi, dan kepemilikan bertanggung jawab. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat mengubah perilaku mereka, mencegah penelantaran hewan, dan membantu menekan peningkatan populasi anjing jalanan secara signifikan. Program ini juga membentuk komunitas yang peduli terhadap kesejahteraan hewan.
Meskipun biaya awal sterilisasi dan vaksinasi cukup tinggi, program pengendalian populasi anjing terbukti mengurangi jumlah anjing liar, kasus gigitan, serta penyakit seperti rabies, echinococcosis, dan leishmaniasis. Penurunan ini berdampak pada pengurangan Disability-Adjusted Life Years (DALYs) akibat rabies dan gigitan anjing, yang secara tidak langsung menekan biaya perawatan kesehatan masyarakat. Studi di Thailand menunjukkan bahwa sterilisasi betina yang berkeliaran dapat mengurangi biaya pengelolaan populasi hingga sekitar 28% dibandingkan strategi konvensional.
Di Thailand, kolaborasi organisasi domestik dan internasional berhasil menurunkan populasi anjing melalui sterilisasi, vaksinasi, dan kampanye kesadaran masyarakat (Tricumpha et al., 2025), termasuk melalui peran organisasi seperti Soi Dog Foundation. Di Filipina dan Bangladesh, pendekatan terintegrasi One Health berhasil menurunkan kasus rabies dan mengendalikan populasi anjing liar (Kale et al., 2025). Strategi ini melibatkan vaksinasi massal, pelibatan komunitas, surveilans lintas sektor, dan keterlibatan tokoh masyarakat sebagai kunci efektivitas.
Pengelolaan populasi anjing jalanan secara berkelanjutan memerlukan pendekatan yang manusiawi, berbasis kesejahteraan hewan, dan melibatkan kolaborasi lintas sektor. Sterilisasi, vaksinasi, serta edukasi masyarakat terbukti efektif mengurangi populasi liar, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hewan, sekaligus menekan risiko penyakit bagi manusia. Dengan kebijakan yang tepat dan kesadaran masyarakat, solusi berkelanjutan ini dapat menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis bagi manusia dan anjing.
Penulis:
Inayah Namora — Universitas Syiah Kuala
Nur Alysa Saribanong — Universitas Gadjah Mada
REFERENSI:
Evelina, C., & Carina, N. (2021). Fasilitas penanganan hewan terlantar. Jurnal STUPA: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur, 3(2), 2223–2236. Universitas Tarumanagara. ISSN 2685-5631 (Cetak), ISSN 2685-6263 (Elektronik).
Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2016, July 22). War against rabies enhanced through dog population management. FAO Indonesia. https://www.fao.org/indonesia/news/detail/War-against-rabies-enhanced-through-Dog-Population-Management-/en
Food Desk Animal Action CIC. (n.d.). Position Statement Regarding Culling – The Culling of Stray Dogs in Turkey. Retrieved October 24, 2025, from https://dogdeskanimalaction.com/the-culling-of-stray-dogs-in-turkey/
Hiby, E., Rungpatana, T., Izydorczyk, A., Benka, V., & Rooney, C. (2025). The impact of Catch-Neuter-Vaccinate-Return (CNVR) on Greater Bangkok residents’ attitudes and behaviours towards free-roaming dogs. Animals, 15(9), 1274.
Kale, M. L. F. P., Riwu, A. G., Simarmata, Y. T., Wuhan, Y. O. P., & Loe, F. R. (2025). Applying the One Health approach to rabies control in the Timor Archipelago, East Nusa Tenggara: A literature review on epidemiology and strategic interventions. Cendana Medical Journal (CMJ), 13(1). Universitas Nusa Cendana.
SayangHewan. (2024, 23 Agustus). Indonesia’s stray dogs: Addressing the growing population issue. https://sayanghewan.net/2024/08/23/indonesias-stray-dogs-addressing-the-growing-population-issue/
Thichumpa, W., Wiratsudakul, A., Lawpoolsri, S., Limpanont, Y., Thanapongtharm, W., Smith, L. M., Maneenogu, S., & Pan-ngum, W. (2025). Optimizing dog population control strategies in Thailand using mathematical and economic modeling. PLOS Neglected Tropical Diseases, 19(7), e0013202. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0013202.
World Animal Protection Canada. (n.d.). Stray dog population management: Creating better lives for dogs by preventing rabies and ending culling through humane solutions. Retrieved October 24, 2025, from https://www.worldanimalprotection.ca/education/animal-welfare-issues/stray-dog-population-management/
